baitul-hikmah.com, Jakarta – Banyak orang ketika mendengar kata marah, terlintas di benak mereka wajah yang kusut dan menyeramkan. Bayangan seperti itu tidak salah, juga tidak sepenuhnya benar. Karna setiap sikap ada menajemennya, termasuk marah.
Memangnya bisa? Saat marah, jangankan untuk memenej, sedang diri kita sendiri saja tidak mampu dikuasai, apalagi memenejnya? Pertanyaan dan pernyataan seperti itu juga banyak terlontar saat kita berkomentar tentang marah. Ahirnya disimpulkan bahwa marah adalah hal ‘haram’ yang sama sekali tidak boleh terjadi dengan kita. Atau seolah kita tidak akan pernah marah untuk selamanya. Intinya, “DILARANG MARAH” maka “JANGAN MARAH!”. Benarkah demikian? sedang marah adalah juga bagian dari fitrah manusia, sebagaimana sifat-sifat lainnya.
Di dunia pendidikan, sifat marah juga menjadi bahan diskusi yang panjang, apakah marah itu boleh saat mendidik? Apakah ia adalah hal yang sama sekali tidak diperbolehkan? Bagaimana pengaruhnya terhadap psikologi anak didik? Atau malah marah adalah sikap yang perlu ditunjukkan kepada peserta didik pada saat-saat tertentu?
Berangkat dari diskusi tersebut, TQT (Taman Qur’an Terpadu) Baitul Hikmah mengadakan seminar dan bedah buku “AYO MARAH” dengan menghadirkan penulisnya langsung. Judul yang ‘provokatif’ membuat pembaca penasaran dengan maksud sang penulis. Sebuah tema yang tidak lazim, bandingkan dengan misalnya, diantara materi yang sering diajarkan kepada anak-anak adalah hadits “LA TAGHDHOB, jangan marah”. Cukup paradoks bukan?
Seminar berlangsung pada hari Senin, 17 Januari 2010. Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta yang sebagian besar adalah guru-guru TK di daerah sekitar Cilandak, juga para orang tua dengan sebagian membawa anaknya. Bertempat di lantai dua Masjid Baitul Hikmah Elnusa, acara dimulai pukul 08.00 WIB. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan penampilan terjemah kinestetik juz ‘amma oleh anak-anak TKIT Baitul Hikmah, diselingi oleh penampilan Qoshidah dan Sholawat oleh POS (Persatuan Orang tua Santri) dan Komite TQT Baitul Hikmah.
Ibu Irawati Istadi, penulis buku “AYO MARAH” sebagai narasumber dimoderatori oleh Tuti Nurbayanti, salah seorang guru di TKIT Baitul Hikmah. Mengupas tuntas buku sekaligus menyampaikan materi manajemen marah dengan komunikatif. Dibantu materi slide, sesekali pemateri menyelipkan humor-humor segar yang biasa terjadi sehari-hari berkaitan dengan marah.
APA ITU MARAH
Marah adalah emosi spontanitas yang muncul ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita. Marah bisa menjadi positif ketika bertujuan mempertahankan kebenaran dan mengajarkan kebaikan. Marah pun bisa menjadi negatif jika hanya karena memperturutkan hawa nafsu dan emosi. Marah negatif harus ditekan dan dihilangkan, sementara Marah positif disalurkan dengan cara yang efektif.
BAGAIMANA SEHARUSNYA MARAH
Pada dasarnya, marah bukanlah hal yang didahulukan dalam menyikapi apapun dalam kehidupan: pekerjaan, bergaul maupun mendidik. Banyak dalil maupun hikmah yang menerangkan tentang hal ini. Ketika menyifati orang bertaqwa misalnya, Allah menyebutkan bahwa di antara ciri-cirinya adalah orang yang menahan kemarahan (QS Ali Imron: 134). Dalam suatu hadits, ketika Rosulullah SAW dimintai nasehat oleh seorang sahabat, maka ia memberi satu nasehat kepadanya: “Jangan Marah!” (HR. Bukhori).
Namun marah sebagai bagian dari fitrah manusiawi yang ada pada setiap manusia, ia tak lepas dari keseharian manusia. Maka di sini diperlukan seni dan manajemen marah. Ada beberapa tips yang dibagi oleh Ibu Irawati untuk menjadi ‘pemarah’ yang baik, di antaranya adalah tak perlu marah berlebihan, karena ada banyak cara lain untuk mendidik anak selain dengan kemarahan. Marah baru diperlukan sebagai upaya terakhir setelah sekian banyak cara peringatan lain tak membawa hasil. Marah yang efektif adalah marah tanpa emosi. Menunjukkan ketegasan, namun tetap dengan memperhatikan psikologis objek marah, terutama anak. hzi
Artikel News Lainnya :