baitul-hikmah.com, Mbok Surti sudah beberapa hari ini omzet dagangannya berkurang. Mie Pangsit yang biasa dijual seharga Rp4.000,- harus dinaikkan menjadi Rp5.000,-. Sejak kenaikan harga BBM khususnya minyak tanah dari Rp2.000 menjadi Rp2.500, terpaksa dirinya mengkoreksi harga jual per mangkok. Maklum kenaikan harga BBM telah membuat harga-harga bahan baku juga naik. Konsekuensi kenaikan harga Mie Pangsitnya membuat pembeli berkurang. Maklum ia berjualan di ujung gang kampung yang pembelinya umumnya adalah para pekerja kasar. Jika sebelum kenaikan, ia bisa meraup untung bersih sebesar tiga puluh ribu perhari, kini tidak lebih dari separuhnya.
Suaminya, Mas Joko yang hanya tukang ojek juga mengalami nasib serupa. Tarif ojeknya terpaksa dinaikkan, karena selain harga bensin meningkat dari Rp4.500,- menjadi Rp6.000,- sewa harian motor itupun telah dinaikan oleh sang majikan. Biasanya per hari sepuluh ribu rupiah, kini naik 50% sehingga menjadi lima belas ribu rupiah. Hitung punya hitung pendapatan Mas Joko juga terkoreksi, yang biasanya bisa mengantongi hasil bersih lima belas ribu perhari, kini paling tinggi sepuluh ribu rupiah. Dengan penghasilan rata-rata pasangan suami istri per bulan Rp750 ribu, mereka harus membiayai 2 anaknya yang masih sekolah di SD dan SMP. Biaya per bulan untuk sekolah anaknya tidak kurang dari lima puluh ribu rupiah. Biaya listrik Rp50.000,-, masih ada sisa Rp650 ribu.
Untuk keperluan lain seperti sabun mandi, sabun cuci, odol, minyak goreng dan seterusnya tidak kurang dari Rp200 ribu. Kini tersisa Rp450 ribu, jika semuanya digunakan untuk makan empat orang, maka rata-rata perhari Rp15.000 atau Rp3.750 per kepala untuk makan sehari tiga kali, atau sekali makan Rp1.250. Masih lumayan mereka mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) Rp100 ribu, sehingga bila jumlah tersebut dialokasikan untuk makan. Maka menunya sedikit meningkat dari Rp1.250 per sekali makan menjadi Rp1.528,-. Tetapi jumlah tersebut untuk beli Mie Pangsit saja tidak cukup, bahkan jika sehari tidak makan. Inilah potret buram saudara saya di kampung kumuh itu.
Memang stigma kemalasan sudah terlanjur diberikan oleh penguasa kolonial kala itu. Sehingga saat mendengar kata ”miskin”, mereka teringat pada kerbau yang hanya bergerak kalau dipacu dan lebih suka berkubang di lumpur hitam. Lebih ironis lagi, pemerintah kita mendefinisikan kemiskinan sebagai hasil perhitungan dari sebuah nilai subsidi. Maka, ditemukanlah angka penghasilan Rp 175 ribu sebagai batas kemiskinan. Kurang dari angka itu berarti miskin dan berhak mendapat santunan Rp 100 ribu. Jika mengacu pada angka itu maka Mas Joko dan Mbak Surti tidak termasuk orang miskin, dan tidak berhak mendapat BLT.
Sungguh prihatin, padahal orang-orang seperti mereka juga manusia yang perlu hidup dan makan. Jika ditanya tentu mereka menjawab tidak ingin miskin, tetapi itulah realitas, ada kaya dan miskin. Perbedaan status adalah keniscayaan, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi,
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Israa’, 17:30).
Allah-lah yang memberi seseorang kelapangan dan kesempitan dalam hal rejeki. Sesuatu yang tidak bisa dipungkiri, dan akan terjadi sepanjang masa. Sehingga bagi mereka yang dilapangkan, berkewajiban untuk bersyukur dengan membantu mereka yang dalam kesempitan. Untuk itulah diperlukan sebuah empati, tanpa bisa memaknainya, maka stiga malas kepada kaum papa akan terus terjadi.
Seperti bocah kelas satu sekolah menengah pertama (SMP) yang hidup serba kecukupan dan tinggal di Real Estate elit. Sebutlah namanya Andi, ayahnya pengusaha besar juga nenek moyangnya sudah berdagang rempah-rempah ketika pendudukan kolonial. Ia sekolah di SD unggulan bertaraf internasional, antar jemput dengan mobil seharga Rp1 milyar untuk jarak 5 kilometer dari rumahnya. Punya sopir dan baby sitter yang selalu menemani, baik ketika ke sekolah maupun belajar. Hingga pada suatu ketika guru sekolahnya meminta para murid di sekolah elit itu membuat karangan tentang keluarga yang sangat miskin. Andi adalah salah satu anak yang pandai dan terampil dalam hal menulis karangan. Gurunya menyarankan, “menulislah dengan hati!.”, begitu pinta sang guru kepada para murid sekolah itu.
Andi lalu mulai menerawang dan membayangkan kehidupan sebuah keluarga miskin. Ia mulai menggoreskan penanya dan menamai tokoh miskinnya sebagai Pak Bedu. ”Pak Bedu,” tulisnya, adalah orang yang sangat miskin, benar-benar miskin, istri dan anak-anaknya juga miskin. Sampai-sampai pembantunya miskin, sopirnya miskin, dan tukang kebunnya pun miskin. Karena tak punya uang, Pak Bedu jarang membersihkan kolam renang di rumahnya. Ia hanya bisa memelihara ikan-ikan kecil di akuarium seperti Lou Han yang makannya sedikit, tidak seperti ikan Arwana dan Koi di rumahku. Kucing Siam milik Pak Bedu kurus-kurus, karena kurang makan. Ayam yang dipelihara juga yang kecil-kecil, jenis ayam kate.
Si kecil yang berpikir lugas, menulis karangannya dengan penuh iba. Ia sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak mungkin bisa menghadapi kemiskinan seperti yang terjadi pada keluarga Pak Bedu. Alangkah malangnya keluarga Pak Bedu, pikirnya. Jangan-jangan anak-anaknya harus berebut saat bermain PS2, karena alat permainan itu hanya ada satu di ruang keluarga. Lain dengan di rumahnya, setiap kamar ada PS2. Sopir dan pembantu Pak Bedupun, pikirnya, pasti sedih karena tidak seperti pembantu dan sopir dirinya. Andi membandingkan handphone yang dipegang sopir dan pembantu Pak Bedu mungkin jenis monophonic yang ketinggalan zaman, lain dengan handphone pembantu dan sopirnya yang polyphonic dan bisa kirim MMS.
Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Bedu mungkin hanya bisa belanja di pasar tradisional yang becek atau mini market di perempatan jalan. Padahal, pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja ke Hypermarket Prancis dan mal-mal. ”Anak-anak Pak Bedu,” tulisnya dengan empati penuh, ”kalau liburan tidak bisa ke Eropa atau Amerika seperti aku. Mereka hanya bisa berlibur ke Bali. Itu pun pakai pesawat yang murah yang setiap saat bisa jatuh atau kecelakaan.
Cerita bocah kecil di atas penulis nukil dan sarikan dari salah satu blog karya Dea. Bisa jadi Andi adalah diri kita yang kadang tidak bisa merasakan kepahitan yang dihadapi orang lain. Seseorang gagal berempati kepada mereka yang hidupnya kerap dirundung kesulitan, sehingga tanpa disadari bersikap ketus kepada kaum papa. Sehingga bisa berkata, “Kalau tidak bisa beli Bensin, ya sudah tidak perlu naik motor”, atau “Kalau tidak bisa beli beras, ya jangan makan nasi”, dan seterusnya. Padahal bisa saja hari ini seseorang dilapangkan rezekinya, namun di lain waktu disempitkan. Segalanya sangat mungkin dipergilirkan, dan kita tidak tahu pasti apa yang akan terjadi kelak. Allah SWT berfirman,
“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.” (QS. Luqman, 31:34).
Mungkin bagi Mbok Surti dan Mas Joko kenaikan BBM adalah biang keladi terjadinya kesulitan dan kemiskinan. Jika pasangan tersebut kuat iman, tentu tidak akan mengutuk pemerintah atau siapapun secara membabi buta. Setiap peristiwa, entah itu kebaikan ataupun keburukan pasti ada hikmah setelahnya. Sebaliknya, tidak sedikit mereka yang kalap, bahkan berprilaku tidak jujur ataupun bertindak kriminal memenuhi kekurangannya, setelah kesulitan menghadang. Bagi orang-orang seperti orang tua Andi tentu fenomena ini menjadi ladang ujian baginya. Apakah dengan kondisi ini mereka tergerak untuk mengulurkan tangannya, atau sebaliknya.
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS. An Nahl, 16:71).
Jika orang tua Andi sebagai pengusaha menafkahkan sebagian rezeki kepada para pegawai atau pembantunya (budak-budak), tentu ia termasuk orang-orang yang bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Juga dengan kita yang saat ini berpenghasilan lebih dari cukup, tidak salahnya membantu saudara, kerabat, dan lingkungan terdekat yang terkena imbas kenaikan harga BBM. Mungkin bisa dimulai dari adik atau kakak kita yang masih menganggur, syukur jika bisa melebar ke lingkungan sekitar yang lebih luas. Itulah tanggung jawab sosial, dan bukti kita mengimani ayat-ayat-Nya. Semakin besar peran kita membantu mereka yang kesusahan, dan semakin besar pula peluang kita memperoleh kemulian. Tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Karena Allah akan menggantinya.
“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’, 34:39).
Tidak ada kata mengeluh, sesulit apapun tentu ada jalan keluarnya. Hal itulah yang kini sedang menimpa negeri ini. Sehingga jika kita mampu bersikap positif menghadapinya, dan tidak kehilangan empati, maka Allah akan mudahkan urusan di negeri tercinta ini, seperti seruan Firman-Nya (QS. Saba’, 34:15), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun“. Amin (farabi al mishri).