baitul-hikmah.com,
Dalam dunia industri sekarang ini, ada hal yang sangat konsisten dari waktu ke waktu. Jika dalam beberapa dasawarsa sebelumnya, perubahan atau Change adalah isu yang utama, maka sekarang isu Branding adalah hal yang sedang mencuat. Terutama sekali di dunia marketing, branding merupakan core competence sebuah bisnis, mulai dari bisnis barang konsumsi, sampai bisnis jasa. Bahkan sekarang, konsep branding bisa diterapkan pada diri sendiri, dan objek penerapannya tidak terbatas hanya kepada pemilik bisnis atau usaha, artis, politisi, namun lebih meluas hingga kepada personal setiap ‘orang biasa’.
Pernah suatu ketika, setelah menjalani rangkaian ujian semesteran, sembari menunggu hasil nilai keluar dengan H2C (harap-harap cemas), saya berdoa kepada Sang Pengatur Alam Semesta: ‘Ya Rabb, I’ve done my part with studying hard and gave the best I could, and now, please help me with this stuff, I know You won’t let me down by giving me a bad mark. I’m wearing this hijab that represents Islam on me, so please, raise my degree by giving me a straight A and so will Your millah raised up. ‘ Pada akhirnya memang tidak dalam semua mata kuliah mendapatkan nilai yang memuaskan, namun Anda dan nilai Anda, mau tidak mau akan mencerminkan seorang muslim secara keseluruhan, dari sudut pandang stakeholders yaitu teman-teman di kelas dan dosen.
Dalam hal apapun kelebihan Anda, tentunya yang bersifat positif, harus terus menerus diasah hingga menjadi trademark kita. Namun sebelum semua itu terwujud, hendaklah kita mengambil langkah sejenak untuk berpikir, akan dibawa ke manakah diri ini. Sebagai seorang pekerja muslim misalnya, dalam lima tahun ke depan, apa saja target yang akan Anda raih? Sebagai mahasiswa dengan aktifitas tak kenal lelah, berapa IPK yang Anda targetkan untuk kemudian dapat diterima di dunia kerja? Sebagai ibu bekerja di rumah, apa saja yang akan Anda ajarkan kepada Anak sehingga menjadi pribadi unggul dan mampu bersaing? Jangan dibiarkan mengalir begitu saja tanpa rencana dan kontrol milestone yang presisi. Arah dan tujuan adalah sangat penting sebelum memulai perjalanan. Setelah itu barulah bisa memulai untuk mengemas diri dan melakukan branding dengan baik.
Hal ke-dua yang tidak kalah penting dari branding seorang muslim adalah konsistensi. Dengan sifat-sifat keunggulan yang dimiliki, haruslah terus ditunjukkan dari waktu ke waktu secara kontinyu. Orang tidak akan mengingat Anda jika nilai positif yang Anda unggulkan hanyalah sewaktu-waktu saja. Ambil contoh Aa Gym misalnya. Dahulu beliau dikenal dengan MQ nya. Beliau sukses memperkenalkan konsistensi brand ‘jagalah hati’. Namun kemudian, terlepas dari pro dan kontra, setelah beliau berpoligami, banyak orang kecewa dan menganggap bahwa beliau tidak konsisten. Hingga audiens-nya kini banyak yang ‘kabur’. Akan sulit sekali untuk mengubah persepsi orang tentang diri Anda. Dibutuhkan tenaga ekstra untuk mengembalikannya ke posisi semula.
Selanjutnya ciptakanlah sebuah brand experience yang menyenangkan. Apakah Anda seorang pekerja yang bisa diajak bekerjasama? Apakah Anda seorang mahasiswa yang memperhatikan lecture yang disampaikan dan memberikan pertanyaan yang bermutu? Apakah Anda seorang ibu rumah tangga yang selalu ceria dan membawa kesegaran di rumah? Joseph Michelli dalam bukunya The Starbucks Experience menuturkan bagaimana sebuah kedai kopi di Amerika bisa memberikan tidak hanya sekedar segelas kopi hangat, tapi juga pengalaman menyenangkan ketika barista (pelayan kedai) mengingat tidak hanya nama Anda namun juga nama hewan peliharaan Anda. Ketika barista mengingat menu yang paling Anda sukai tanpa bertanya lagi. Ketika barista masih mengingat Anda setelah sekian lama Anda tidak berkunjung ke kedainya. Nilai tambah inilah yang menjadikan Starbucks dikenal luas dan menjadi merek yang menancap pada top of mind para penikmat kopinya. Starbucks berhasil mengkomunikasikan keunikan atau diferensiasi brand yang dimilikinya.
Dalam keseharian kita, penilaian terus dilakukan seiring berjalannya waktu. Dalam hal ini, update keberadaan branding kita setiap periode. Jika ada salah satu yang kurang sejalan, segera sesuaikan dengan tujuan awal yang telah diset pada permulaan. Termasuk gaya bertutur, pemilihan kata, intonasi, kekuatan suara, semua akan menjadi pion pembuka interaksi dengan lingkungan. Pun dalam memilih gaya busana, terutama untuk akhwat. Sesuaikan warna, ukuran, model, kerapihan pakaian dan kebersihannya. Sehingga kalau diajak ngobrol dengan supervisor memberikan kesan yang baik. Kalau berbicara dengan dosen terlihat intelek. Jangan sampai salah kostum dengan memakai jilbab hijau dan baju ungu misalnya. Atau rok yang kepanjangan, atau kaos kaki molor, atau bahkan daleman jilbab yang balapan dengan luarannya. Kegagalan interaksi dengan lingkungan terdekat akan membawa kesulitan membawa ke arah personal branding yang dituju.
Hal terakhir adalah tetap alert bahwa keberadaan kita sebagai seorang muslim merupakan co-branding bagi imej diri yang akan kita bangun. Kita adalah seorang muslim sebelum menjadi yang lain. Ikrar kita sebagai seorang muslim dengan semua kewajiban yang melekat di dalamnya, merupakan totalitas kesatuan merek dagang alam semesta yang tidak bisa dipisahkan. Seberapa tinggi pengetahuan kita terhadap apa yang sedang kita geluti? Seberapa mengerti kita terhadap apa yang terjadi di dunia Islam sekarang ini? Sudah seberapa banyak kontribusi yang kita berikan untuk dunia Islam? Pada akhirnya, apa yang kita berikan kepada lingkungan akan berbalik kepada diri sendiri dalam menciptakan branding yang kokoh.
http://www.eramuslim.com
Tulisan Dunia Perkantoran Lainnya :