Yayasan Baitul Hikmah Elnusa

Kontak

021-7829511

admin@baitul-hikmah.com

GRAHA ELNUSA, Jl.TB Simatupang Kav 1B Cilandak Jakarta Selatan 12560

Program YBHE

Jadwal Sholat
Latest Blog Entries YBHE Blackberry Launcher

Selesaikan Masalah Dengan Keyakinan

28 Desember 2009 | 28 December 2009 M Oleh: Admin Baitul-hikmah.com

uang-kertasbaitul-hikmah.com - Usai workshop Business Rich Class di Bandung tiba-tiba seorang ibu-ibu datang menghampiri saya. Dengan terisak dan terbata-bata ibu itu  menjelaskan masalah yang dihadapinya. “Pak Heppy, bagaimana caranya saya bisa ke luar dari masalah saya hari ini. Saya terjerat utang. Selama ini saya menghidupi keluarga dengan menggunakan uang riba.”

Dari ceritanya, ibu ini banyak menggunakan kartu kredit dan untuk menutupinya dia harus gonta-ganti kartu kredit dari satu bank ke bank yang lain. Akibatnya tagihan sudah menumpuk dan income yang ada membayar bunganya saja belum bisa.

Easy money memang sering membuat para pengusaha seolah tidak ada pilihan lain ketika membutuhkan uang cepat.  Dengan alasan untuk bridging, tawaran pinjaman uang cepat terus diambil setiap kali memerlukan cash.  Tidak peduli berapapun bunga yang ditawarkan.  Dan itu terus-menerus dilakukan karena merasa tidak ada lagi alternatif lain.  Sampai pada satu titik baru terasa ketika utang semakin dalam.  Padahal berbisnis tujuannya adalah untuk membangun kekayaan bukan untuk menggali kemiskinan.

Saya selalu menekankan kepada para teman-teman sesama  pengusaha untuk segera berhenti dari riba. Ada memang yang menyangsikannnya dengan alasan tidak mungkin bisa  ke luar dari system riba dalam situasi seperti sekarang. Karena hampir semua transaksi yang kita lakukan selalu bersinggungan dengan renten.

Kepada ibu tadi saya katakan bahwa hal pertama yang harus dilakukan  adalah Niat untuk segera berhenti dari riba itu. “Apa itu bisa, Pak Heppy?” ibu itu bertanya ragu. “Kecepatan ibu untuk keluar dari masalah itu berbanding lurus dengan keyakinan ibu tentang hal itu,.” saya berkata yakin.

Dari ceritanya ibu itu sudah tidak bisa konsentrasi lagi dengan usahanya karena terus memikirkan utangnya.  Bahkan usahanya hampir  ditinggalkan karena dia hanya berupaya mencari uang untuk menutupi biaya dari bulan ke bulan.

Banyak pengusaha kita  seperti ibu ini hanya memikirkan masalah tetapi lupa membangun. Seharusnya energi yang ada pada kita harus dibagi dan tidak dihabiskan untuk memikirkan masalah.  Masalah  cukup 20 persen saja,  sisanya kita gunakan untuk membangun. Produksi tetap harus jalan agar income selalu ada. Sale harus diperhatikan sebab kalau tidak anak buah kita akan menganggap sale bukan sebagai hal yang penting.

“Ada enggak cara cepat untuk keluar dari masalah ini Pak Heppy? Saya sudah hampir  tidak kuat lagi.” ibu itu terus mendesak. Pada tahap ini sering kali orang berfantasi untuk mendapatkan jalan instan untuk keluar dari masalah.

Mengambil uang pinjaman itu biasanya selalu diikuti dengan harapan bahwa bulan depan akan ada proyek besar untuk menutupi semua utangnya. Nyatanya hal itu tidak pernah terjadi.  Sebab sunnatullahnya semua itu ada cara dan jalan yang harus dilalui.  Sekecil apapun ikhtiar harus tetap ada. Masalah hasil itu bukan kita yang menentukan meskipun kalkulasi harus tetap terukur.

Ketika saya ditanya,“ Pak Heppy bagaimana cara anda dulu bisa bangkit dari utang yang 62 miliar itu?” Jujur saja saya tidak tahu jawabnya. Tetapi yang jelas utang itu tidak akan menghentikan upaya saya untuk terus berusaha. Mulai mencari proyek baru, belajar ilmu dan keterampilan bisnis.

Tidak cukup di dalam negeri saya cari mentor terbaik hingga  ke luar negeri.  Dan selalu yakin bahwa dalam masalah itu Allah memberi kita kemampuan untuk menyelesaikannya. Karena itu saya selalu berkata bahwa kecepatan kesuksesan anda berbanding lurus dengan keyakinan anda.

Maka bila kemudian anda merasakan sulit sekali keluar dari masalah dan terus terjerat dengan  hutang melalui uang-uang riba, periksalah keyakinan anda. Jangan-jangan anda tidak yakin bahwa anda bisa membangun kekayaan tanpa riba.  Bagi orang yang bertakwa riba adalah unnegotiable.

Kalau masih tawar-menawar apalagi menggunakannya maka jangan berharap akan ada jalan ke luar yang mudah. Apalagi berharap datangnya rezeki melalui jalan yang tak disangka-sangka. Karena syaratnya tidak kita penuhi yakni menjadi sosok yang bertakwa. (RoL)

Artikel Dunia Perkantoran Lainnya :

4 Responses
Tinggalkan komentar anda: