Yayasan Baitul Hikmah Elnusa

Kontak

021-7829511

admin@baitul-hikmah.com

GRAHA ELNUSA, Jl.TB Simatupang Kav 1B Cilandak Jakarta Selatan 12560

Program YBHE

Jadwal Sholat
Latest Blog Entries YBHE Blackberry Launcher

Wamenag: Perlu Reformulasi untuk Solusi Bangsa

27 Januari 2012 | 27 January 2012 M Oleh: Admin Baitul-hikmah.com

baitul-hikmah.com, Moralitas dan spiritualitas bangsa dinilai semakin merosot dan memprihatinkan. Karena itu, kini perlu reformulasi dan aktualisasi bidang pendidikan terutama yang bernuansa agama. Sehingga, ke depan ranah sosial lebih memperhatikan masalah kesehatan rohani.
“Terlalu banyak yang ingin diketahui namun tak bisa dipecahkan dengan akal karena banyak yang mengabaikan etika dan agama. Karena itu, perlu bangsa ini perlu solusi dari pendidikan agama,” kata Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan sekaligus menjadi pembicara kunci (keynote speaker) pada pembukaan seminar pendidikan Islam, di Jakarta, Rabu (25/1). Seminar itu yang diselenggarakan berkaitan dengan Hari Amal Bakti Kementerian Agama (Kemenag) ke-66 mengangkat tema “Refleksi Reformulasi Pendidikan Islam Dalam Konteks Kemajemukan Sosial”. Hadir pada acara tersebut Dirjen Pendidikan Islam Prof Nur Syam yang juga menjadi narasumber. Narasumber lain Guru Besar FISIP Universitas Airlangga Surabaya Prof Kacung Marijan, dan Soedjarto. Menurut Wamenag Nasaruddin Umar, dewasa ini tata krama di kalangan pelajar semakin dirasakan menurun. Kadang dijumpai pula sekelompok orang atas nama demokrasi mengabaikan hak orang lain. Atas nama kekebasan pers, ada orang membuka aib keluarga sendiri. Atas nama HAM, sekelompok orang menuntut adanya kebebasan berpasangan hidup. Dengan demikian, ada yang harus diaktualisasikan dalam bidang pendidikan untuk membentengi anak agar ke depan memperoleh pemahaman yang kuat. Pendidikan agama kini dirasakan semakin penting. Namun pertanyaannya, pendidikan yang bagaimana bentuknya. “Hal ini tidak mudah dilakukan,” kata Nasaruddin Umar. Ia mengatakan, Islam memiliki ajaran yang universal. Hal ini tak hanya harus diwujudkan dalam lingkungan pendidikan Islam seperti di pondok pesantren tetapi juga dapat dilaksanakan sampai tingkat universitas. Dalam kaitan ini, ia mengingatkan bahwa membicarakan agama bukan berarti bicara masa lampau, tapi di dalamnya banyak nilai universal yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Penghayatan

Pendidikan agama itu jangan hanya sebatas mengetahui tetapi juga pada penghayatan, dirasakan dan diamalkan. “Itu intinya. Kita belajar agama bukan untuk lulus dengan nilai rapor tinggi, tapi ukurannya tidak di situ. Bagaimana interaksi dengan lingkungan hidup dan lainnya,” ujarnya menjelaskan. Idealnya pendidikan dan ajaran agama jangan berjarak dengan pemeluknya. “Nanti agamanya mengatakan apa tapi yang dilakukan pemeluknya lain lagi. Jadi, ajaran harus semakin mendekatkan dengan umatnya. ajaran agama dan pemeluknya harus menyatu. Paling tidak berdekatan,” katanya. Wamenag berharap pemeluk agama dimana pun berada selalu tetap relijius. “Dekat dengan agama yang dianutnya. Tidak semua melihat orang lain beda, kita sendiri yang benar. Diri harus pada posisi yang menggenggam agama. Kemana pun kita pergi kita mengakui adanya kebenaran. Agama mengajak semua pihak untuk membawa kebaikan,” katanya. Sebelumnya, Ketua Panitia HAB Kemenag ke-66 Dr Afandi Muchtar mengatakan, pihaknya sengaja mengangkat tema tersebut terkait adanya fenomena sosial dewasa ini bahwa peristiwa kekerasan dan pertikaian antarkelompok terlibat didorong oleh semangat atas nama ajaran keyakinan dan agamanya. (Yudhiarma)

www.suarakarya-online.com
Artikel News Lainnya :

 

Tidak ada komentar.
Tinggalkan komentar anda: